Good bye Indosat Ooredoo Prepaid ku
"Dek, tadi mas coba isikan pulsa ke nomor adek kok ga bisa ya?"
"Nomor Indosat kah?"
"Iya. Coba di cek, apanya yang bermasalah."
"Oke, adek cari tahu dulu ya."
Saya seketika berfirasat, firasat wanita (hehe), jangan-jangan nomor Indosat saya sudah mati, terblokir, kadaluarsa, atau apapun itu. Sebagai review singkat, 1 tahun belakangan nomor Indosat ini memang sangat sangat jarang saya pakai. Karena kartu Indosat saya masih kartu lama, belum sempat di upgrade ke kartu baru yang bisa mengakses jaringan 4G. Karenanya untuk keperluan akses internet, saya menggunakan kartu operator seluler lain. Hampir semua kebutuhan komunikasi sekarang ini sudah bisa dilakukan via internet, terutama kebutuhan komunikasi mendasar, mengirim pesan dan telepon. Tambahkan lagi biaya yang lebih murah. Alhasil, lambat laun kartu Indosat ini hampir terlupakan. Apalagi untuk sekedar mengisikan pulsa kedalamnya, yang kini menjadi prioritas kesekian. Tapi, kartu ini tetap saya pertahankan, karena dia spesial.
Saya tutup aplikasi Whatsapp dan pindah ke aplikasi telepon. Saya ketik *123# untuk mengecek masa tenggang nomor saya. Tapi kok
Menghirup udara santai ditemani danau dan Goa Pancur
| https://www.google.com/maps |
Pantai bandengan, family time
Join me at Pati-Surabaya Trip
Ngapak vs betawi
Eits, jangan salah sangka dengan judul diatas. Judul "ngapak vs betawi" sama sekali tidak ditujukan untuk mengadu domba penganut logat ngapak dan betawi. I love this accent. I'll show you some shows: ngapak show and betawi show, before I tell you more about this topic.
_NGAPAK shows_
Lilok: yiiing, sih nyong pan teplon AXISe koen ora nyambung?
Warink: wis ora kanggo AXISe hha… :D
Lilok: wooooo bocah, sih koen lagi apanan?
Warink: saiki lagi rapat, apan rampung kiye delat maning
Sebuah Misi Siswa asal Belanda
Fina sendiri baru berusia
Impresi Pulau Madura
Kalo denger kata "Madura", beberapa hal bakal melintas dikepalaku.
Yang pertama: Jembatan Suramadu. Baru dua kali saya kesana. Yang pertama karena benar-benar harus menyebranginya menuju Sumenep, ujung pulau Madura. Yang kedua iseng jalan-jalan sama arek-arek, nyobain nglewati Suramadu naik motor malem-malem. Ndesoni asli. Tapi lampunya emank ciamik kalo malem tu (inceran utama). Plus anginnyaaaa....kuenceng puol rek... he ndeso-nya keluar dua kali. Sampai terakhir aku kesana, jembatan belum jadi sepenuhnya, terutama untuk jalur sepeda motor arah balik Madura - Surabaya.
Yang kedua: partner bisnis ku. Wafy namanya. biasa dipanggil engkong / cong / wapi (temen sunda ni teh yang manggil he). Satu yang gw heranin dari tu anak. Kalo orang makan ayam ato daging lain nyari dagingnya, dia mah nyari tulangnya (kaga doyan daging mode on). Dan usut punya usut beberapa teman Madura ku juga ndak suka daging. Lha kok satu pulau satu hati hehe.
Yang ketiga: nuansa Islaminya kuentel cak. Sepanjang jalan besar yang dilalui, dari ujung Madura barat hingga Madura timur. Setiap dua atau tiga meter (saya lupa) ada papan dari besi dicat hijau bertuliskan ASMAUL HUSNA. Subhanallah. Seakan sepanjang jalan kita diingatkan akan keberadaan-Nya sehingga meminimalisir maksiat yang mungkin dilakukan (mungkin begitu maksudnya). Bukan itu saja, sempet nangkep sekilas juga papan kayu dipakukan disebuah pohon dengan tulisan
"Alhamdulillah, akhirnya telah didirikan Pom Bensin di tempat ini".
Kembali saya mengucapkan "Subhanallah". Saya yang terbiasa di kota dengan segala hedonismenya, yang bagi saya dan orang lain mungkin pembangunan suatu SPBU di dekat tempat kita itu biasa saja. Tapi mereka, masyarakat Madura dapat dengan lugas mengejawantahkannya dalam rasa syukur karena mereka menyadari bahwa hal tersebut juga termasuk karunia dari Allah SWT.
Sayang waktu berkunjung saya disana terpotong jadwal kuliah yang sudah menunggu keesokan harinya. Jadi belum bisa mengeksplor lebih jauh... hmm...
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram" (Q.S. Ar Ra'd: 28)
proudly present by

