0

izin

maaf blog, hari ini saya izin mengosongkan mu dari coretan ku...semoga aku bisa segera kembali . doakan ya
0

Ternyata begini toh rasanya...





Sudah mendekati waktu pelaksanaan Mid Semester di pondok saya. Jadi  teringat proses ujian lisan setahun kemarin. ketika saya bertukar posisi dari yang di uji menjadi yang menguji. Saya kedapatan menguji siswa kelas VII, atau dengan kata lain, berjarak 10 tahun dari waktu saya diuji pada tingkatan kelas yang sama.
Total terdapat sekitar 30 an anak dikelas VII internasional yang saya uji. Dan titel "internasional" ini ternyata tidak sia-sia. Bisa dikatakan 85% siswa dikelas ini memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik, mata pelajaran yang saya uji. Rata-rata pertanyaan saya dijawab mendekati sempurna. Bahkan ada satu siswa yang saking pintarnya, saya malah jadi minder menguji dia (lho kok? hehe).

Namun, tak ada gading yang tak retak. Se-'internasional'-al apapun kelas ini, tetap ada yang bikin urat kesabaran saya hampir

Resiko menjadi lulusan Teknik Industri

Well, sebenarnya catatan ini sudah tidak betah ingin keluar dari notes hape saya hampir 7 bulan lalu. Butuh momen tepat untuk mengeluarkannya. Momen ketika chemistry antara saya dan ke-TI-an dirasa mulai memudar. saya harap dengan tulisan ini dapat menggugah ke-TI-an saya dan teman-teman, dimanapun kita berada.

Pemikiran ini melintas begitu saja waktu saya menemani teman berbelanja disebuah swalayan. Saya sendiri tidak belanja apa-apa karena memang belum ada keperluan mendesak (hemat ne ceritanya hoho). Nah, waktu teman sedang menunggu belanjaannya dihitung di kasir, saya (yang sedang berdiri nganggur) melihat kondisi sekitar dan mulai menghubung-hubungkan banyak hal.

<> dari aspek perencanaan fasilitas dan ergonomi :
bagaimana pihak manajemen, dengan luas ruang yang
0

mencontoh penerimaan tamu dari sebuah keluarga arab


Siang ini saya tidak ke dapur untuk menyantap makan siang seperti biasanya. Undangan rapat penutupan kegiatan UAN sudah saya kantongi dari dua hari kemarin. Sudah rahasia umum, kalau rapat siang otomatis ada bungkusan nasi tersedia untuk peserta rapat. Alhamdulillah menu rapat siang ini adalah sate kambing, menu yang lama tak jumpa. Selesai rapat, saya mendapat amanah untuk mengantarkan beberapa bungkus sate kambing untuk Syekh kami, Syekh Makhrus. Kebetulan Istri dan ke empat anaknya baru tiba di Indonesia dan saya pribadi belum sempat melihat mereka. Dijalan menuju kediaman beliau, saya dan teman saya melatih-latih bahasa Arab kami. Karena Syekh Makhrus belum bisa berbahasa Indonesia dengan lancar, maka kami lah yang harus berbahasa Arab.

Pintu rumah Syekh selalu terbuka, menunjukkan keterbukaan terhadap siapa saja yang ingin berkunjung.
Assalaamu'alaikum," salam kami dari depan pintu.
Wa'alaaikumsalam warahmatullah wabarakatuh", terdengar suara menjawab salam dari dalam rumah.
Ternyata yang menyambut kami adalah istri syekh.
Tafaddhol….Tafaddhol…..

Akhirnya kami masuk, didalam sedang tertidur
3

gw belon pernah sholat dibunderan waru

Alkisah, suatu hari dua orang bukan asli jawa timur, saya (jakarta) dan teman saya (padang) mau menjenguk daerah berlumpur Porong. Dengan berbekal dua roda sepeda motor, mereka bertolak dari bilangan kampus ITS di area Surabaya Timur. Malam sebelumnya mereka sempat bertanya arah rujukan pada teman yang memang asli Porong (yang baru diketahui belakangan termasuk salah satu "korban" yang rumahnya terendam lumpur). Kami diberi arah mata angin (yang "Utara-Timur-Selatan-Barat" itu lhooo). Dengan lugas dia memberi petunjuk "Nanti setelah sampai di bundaran Waru ambil jalan arah Timur. Nanti lurusssss terus sampai ketemu tanggul porong yang kelihatan dari jalan".
ITS-Porong (jalur asli)


O o ow, saya dan teman saya yang terbiasa dengan
Back to Top