
Sudah mendekati waktu pelaksanaan Mid Semester di pondok saya. Jadi teringat proses ujian lisan setahun kemarin. ketika saya bertukar posisi dari yang di uji menjadi yang menguji. Saya kedapatan menguji siswa kelas VII, atau dengan kata lain, berjarak 10 tahun dari waktu saya diuji pada tingkatan kelas yang sama.
Total terdapat sekitar 30 an anak dikelas VII internasional yang saya uji. Dan titel "internasional" ini ternyata tidak sia-sia. Bisa dikatakan 85% siswa dikelas ini memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik, mata pelajaran yang saya uji. Rata-rata pertanyaan saya dijawab mendekati sempurna. Bahkan ada satu siswa yang saking pintarnya, saya malah jadi minder menguji dia (lho kok? hehe).
Namun, tak ada gading yang tak retak. Se-'internasional'-al apapun kelas ini, tetap ada yang bikin urat kesabaran saya hampir
putus. Bukan karena tidak tahu menahu soal bahasa inggris, karena saya yakin seleksi masuk kelas ini cukup ketat. Tapi kemampuan mereka tertutupi dengan rasa grogi, takut salah, malu-malu, dan sikap tidak mendukung lainnya. Saya sampai gemes menunggu hampir 10 menit hanya untuk mendengarkan jawaban satu pertanyaan. Sekali lagi itu saya berpikir, jadi guru itu harus sabar.

Darisana, saya belajar dua hal. Pertama, penting juga memposisikan diri kita dengan posisi lawan bicara kita, yang dalam hal ini adalah penguji. Coba bayangkan penguji kita sudah dilelahkan oleh beberapa siswa yang dia uji sebelumnya. Yang perlu kita lakukan adalah memberikan performansi terbaik kita didepan mereka agar mereka tidak (juga) lelah karena kita. Kedua, lebih komunikatif dalam menjalankan ujian lisan dan semacamnya. Dengan demikian, proses ujian akan berjalan dengan lebih ringan dan menyenangkan bagi kedua belah pihak ^_^.
0 komen:
Post a Comment