0

bisnis musiman


“money never sleep” sebuah kutipan judul dari film Wall Street 2 yang barusan ku co-past dari teman satu kampus. Film ini sepertinya menceritakan seorang pemuda yang berusaha mengembalikan nama baik orang tua yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri. Dilatar belakangi oleh para pelaku bursa dan pemegang saham yang seketika dapat panik secara bersamaan mendengar isu sensitif yang menyangkut perubahan nilai saham. dampat yang mengerikan. Ku bilang “sepertinya” diawal karena sebenarnya tidak tahu persis detail prolog yang ingin disampaikan si pembuat film. Selama dua jam ku belain menghabiskan filmnya dengan resiko kuping merah, bukan karena apa-apa, tapi karena film yang ku co-past membabi buta ini (tanpa lihat reviewnya dulu) TERNYATA tidak ber-subtitle. Aha. Jadilah diriku dengan spaneng a.k.a fokus tingkat tinggi mencoba meraba-raba dialog “ngomong apa sich mereka?”. Penderitaan tidak berhenti sampai disitu. alih-alih mendengarkan dengan serius, aku malah bolak-balik membuka dictionary electronic untuk mencari arti kata dari sekedip kata yang sempat tertangkap telinga. fokus ku terbagi, dan hal ini berakibat buruk pada alur cerita yang ku ikuti, terpotong disana sini. Walhasil, kebanyakan informasi yang ku dapat dari film ini adalah hasil intrepretasi ku dari mimik wajah para aktor. Ketika menangis, oooo…lagi sedih, tapi tak tahu pula apa yang disedihkan. ketika tertawa, oooo…lagi senang, tapi sekali lagi, tak tahu pula alasan senang mereka. Menyedihkan memang, he. Tapi disitulah sense-nya. Sense-of-nonton-film-barat-tanpa-subtitle.hoho Whups. Kalimat pembukanya sebenernya tidak ditujukan untuk diikuti paragraf diatas. Lagi-lagi aku tergelincir pada ketidak-konsistenan menulis sesuai tema. Ok ok ok…kembali ke jalan yang benar…

“money never sleep”, uang akan terus berputar melalui transaksi jual beli, perpajakan, penggajian dsb. terjadi jutaan kali dalam sehari dibagian bumi mana pun didunia (pengecualian khusus ada daerah pedalaman yang belum mengenal uang sebagai tool barter modern). Ditengah-tengah sistem transaksi tersebut, terdapat sekumpulan orang yang terdefinisi sebagai wirausahawan. Bukan pekerjaan mudah, tapi juga tidak tergolong sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Berbagai jenis usaha dapat kita lihat hidup dan terus tumbuh disekitar kita. Mulai dari bisnis makanan yang merupakan kebutuhan sehari-hari, hingga bisnis properti dengan segmen pasar terbatas namun dengan keuntungan yang bisa dibilang tidak sedikit.
Berbicara mengenai keuntungan, terdapat satu fenomena menarik yang menjadi perhatian saya beberapa hari belakangan. Sebuah bisnis sederhana yang terletak tidak jauh dari pemukiman penduduk diwilayah Surabaya timur. Bisnis yang mungkin tidak asing bagi para pengendara sepeda motor. Ya, usaha jasa pencucian sepeda motor. Ha? Bisnis cuci motor? Kan udah biasa, dimana-mana juga ada… hmm… bagi saya bisnis ini tidak biasa dimusim hujan seperti ini. Lantaran banyak sekali genangan-genangan air yang terbentuk dijalan-jalan yang notabene dilalui kendaraan, maka kendaraan akan cepat kotor. Pun tidak sekali sehari hujan itu turun, yang menyebabkan volume genangan air dijalan tetap, tak sempat mengering, sehingga kotoran pada kendaraan pun semakin menumpuk. 


Tak seorang pun nyaman ketika membawa kendaraannya ke jalan dalam keadaan kotor. Walhasil, membludak jumlah motor yang antri di tempat jasa cuci motor. Bayangkan, ketika saya memasukkan motor untuk dicuci beberapa hari lalu, sudah ada beberapa antrian. Bahkan ketika motor saya sudah bersih dan bersiap pergi, motor-motor kotor yang mengantri untuk dicuci terus berdatangan. Sebut saja dalam sejam terdapat 8-10 motor yang dicuci. Dengan tariff Rp 6.000,- per motor, jadilah pemilik usaha meraup uang sebesar Rp 48.000.-hingga Rp 60.000,- perjamnya. Dan seterusnya bisa anda hitung sendiri laba kotor yang didapat. Jika dibandingkan dengan jumlah motor yang dicuci pada selain musim hujan, maka jumlah ini mengalami peningkatan, yang berdampak pula pada peningkatan revenue (pendapatan).
Contoh sederhana dari usaha lain yang dipengaruhi oleh musim yaitu penjual es. Demand (permintaan) es akan meningkat drastis ketika musim panas (ceile, gaya 'musim panas' pedahal musim kemarau aja he). Karena orang akan cepat dehidrasi dan merasa haus terus menerus. Atau musim-musim lainnya seperti contoh musim tahun ajaran baru dengan demand perlengkapan sekolah yang meningkat di pertengahan tahun (Juni-Juli), musim buah-buahan yang melambungkan harga buah yang memang jarang muncul namun digemari seperti musim durian,musim kelengkeng, musim eh buah (???), musim lebaran dengan demand sandang pangan yang meningkat, bahkan seorang kenalan sempat menyibukkan diri dengan bisnis parcel sementara yang dia jalani hanya hingga musim lebaran berakhir “mumpung lagi musim”, begitu katanya. 


Sebagai seorang pebisnis, kita harus jeli melihat peluang bisnis yang ada. Seperti contoh bisnis musiman ini. Allah telah menyediakan banyaaaaaaak sekali jenis musim yang didalamnya terdapat ribuan alternatif untuk mencari rizki. Dengan anugrah akal yang telah diberikan, tentunya tak baik menyiakan kesempatan ini. Sebagaimana hadist Rasul “beribadah lah kamu layaknya orang yang akan meninggal esok hari, bekerja lah kamu layaknya orang yang akan hidup seribu tahun lagi”. Jadi teringat status FB salah seorang teman yang memiliki bisnis les privat "wah sebentar lagi musim liburan, siap-siap kanker (kantong kering-red) coz ga ada pemasukan" hehe
"apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu dibumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung" Q.S. Al Jumu'ah 10



0 komen:

Post a Comment

Back to Top